Sumber : https://www.merdeka.com/gaya/tak-selamanya-berpikir-positif-itu-baik-ini-efek-negatifnya.html

Dewasa ini, permasalahan remaja  semakin  beragam, dari permasalahan nilai, moral, agama, sosial, kesehatan, penggunaan narkoba  sampai dengan munculnya perilaku seks bebas. Permasalahan yang dialami oleh para remaja dikarenakan adanya perubahan yang dialaminya baik dari segi fisik, hormonal maupun emosi bahkan lingkungannya. Kematangan dan kesiapan mereka masih belum sebanding dengan perubahan yang mereka alami, sehingga mereka sering mengalami stress dan tekanan  dalam menghadapi segala permasalahan dalam hidup dan lingkungannya. Hal ini sejalan dengan tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Stanley Hall bahwa di usia remaja seorang individu akan mengalami storm and stress.

Permasalahan yang dihadapi remaja seringkali memunculkan penyimpangan ataupun memunculkan perilaku-perilaku yang bertentangan dengan norma masyarakat, norma agama, nilai moral bahkan pelanggaran hukum. Fenomena ini sering disebut kenakalan remaja. Kenakalan remaja yang dilakukan ini memunculkn kasus-kasus seperti, perilaku seks bebas, pernikahan usia anak atau usia dini, penyalaguanaan narkoba, seks bebas, bahkan mucikari sebaya, penelantaran anak, kekerasan dalam rumah tangga. Menghadapi kondisi dan kenyataan seperti ini, semua pihak sering saling menyalahkan, seperti masyarakat akan menyalahkan orang tua, orang tua akan menyalahkan sekolah dan sekolah akan menyalahkan lingkungan masyarakat dan masyarakat akan menyalahkan pemerintah. Permasalahan tidak akan terselesaikan ketika berbagai pihak tidak saling bersinergi untuk menemukan penyebab dan menemukan solusinya.

Salah satu penyebab semakin maraknya  kasus-kasus remaja adalah adanya pola pikir yang cenderung negatif yang dibentuk oleh pergaulan, kurangnya dasar-dasar keagamaan dan juga stigma-stigma yang diberikan yang ada dimasyarakat. Pola pikir negatif ini  tercermin dalam kalimat-kalimat yang dinyatakan oleh remaja seperti “aku seperti ini wajar karena orang tuaku broken”, “kerjaannya berantem”, “aku adalah korban perceraian”, “aku adalah anak yang tidak diinginkan”, “aku adalah anak haram”, “aku menjadi apapun baik / buruk gak akan membuat orang tuaku peduli”, “aku selalu salah di mata semua orang”, “aku sudah hina”, “buat apa aku hidup”, “aku selalu di paksa dan ditekan  tidak pernah merasakan kebahagiaan, lebih baik aku mati”.

Dari pernyataan-pernyataan yang sering diungkapkan oleh remaja bermasalah membuat mereka  merasa hidupnya tidak berguna dan tidak ada guna untuk hidup. Sebagai pemerhati anak dan remaja kita berusaha menemukan arah solusi yaitu bagaimana kita mampu membentuk pola pikir positif  dalam diri dan jiwa anak dan remaja. Bagaimana cara kita untuk selalu berpikir positif dari apa yang kita hadapi dan jalanin. Berpikir positif merupakan  kecenderungan individu untuk memandang segala sesuatu dari segi positifnya dan selalu optimis terhadap lingkungan dan dirinya sendiri. Berpikir positif akan menciptakan kepuasan dan rasa senang dalam menghadapi hidup hingga mengantarkan kita kearah kebahagiaan. Ketika setiap kejadian dalam hidup dapat dimaknai secara positif maka kebahagiaan akan menghampiri kita. Kebahagiaan akan tercipta ketika kita mampu melihat segala hal secara positif.

 

Penulis : Yossy Dwi Erliana (Staf Pendidik FPsi UTS)

USIA REMAJA DAN TANTANGAN BERFIKIR POSITIF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *