Sumber : https://blog.harukaedu.com/bagaimana-online-learning-dapat-meningkatkan-performa-akademik/

Pengalaman belajar membuahkan banyak cerita di kalangan mahasiswa. Cerita tersebut bisa berupa cerita yang menyenangkan dan bisa juga menyedihkan. Terkait dengan cerita yang menyenangkan atau pun menyedihkan, proses perkuliahan memang tidak semudah yang dibayangkan ketika awal sebelum engage dengan iklim akademik perkuliahan. Beberapa saat setelah bergelut dalam aktivitas akademik, terdapat beberapa keluhan terkait beban akademik. Selain itu, keluhan juga berkaitan dengan pembagian jadwal yang tumpang tindih dengan aktivitas organisasi dan aktivitas-aktivitas lainnya baik di dalam lingkungan kampus maupun di luar lingkungan kampus. Di sisi lain, beberapa mahasiswa mengasumsikan bahwa meskipun iklim akademis perkuliahan membuatnya tertekan ataupun cemas, namun aktivitas akademis di lingkungan kampus menjadi hal yang menimbulkan ‘addiction’ tersendiri.

Sebelum menelaah alasan di balik mengapa memelajari hal yang baru bisa menimbulkan banyak kontroversi antara merupakan suatu hal yang menyenangkan dan menyebalkan, Semiawan (2017) mengemukakan bahwa 95% dari kinerja otak tertidur (tidak bekerja). Artinya, potensi penduduk dunia hanya mengoptimalkan 5% dari kinerja otak. Kemudian, Semiawan (2017) menegaskan bahwa otak yang sifatnya plastis mengindikasikan bahwa kinerja otak bisa berkembang berdasarkan pada bagaimana manusia meningkatkan fungsi kinerja otak dan interaksi manusia dengan lingkungan. Meningkatkan potensi kinerja otak, salah satunya, dengan membiasakan diri untuk memelajari hal positif dan terbuka terhadap pengalaman baru, meskipun awal memelajari hal baru bukanlah aktivitas yang mudah. Begitu pula sebagai mahasiswa yang baru berpartisipasi dengan aktivitas akademik perkuliahan, untuk awal kalinya, hal itu bukanlah hal yang mudah. Mahasiswa akan merasakan kesulitan dan menemukan beberapa hambatan. Pada saat mahasiswa mengalami kesulitan selama masa awal perkuliahan, dari pendekatan Biokimia, neuron-neuron dalam otak mengalami ‘sinapse activity’, yang mana neuron-neuron tersebut dalam proses saling terhubung dengan lainnya (Stewart, Popov, Kraev, Medvedev, & Davies, 2014). Lebih lanjut, Semakin banyak neuron-neuron yang saling terhubung dengan neuron-neuron lainnya, semakin kompleks perkembangan otak (eskalasi: Pertemuan neuron yang lebih cepat) (Zimmer, 2011). Demikian, kemampuan kognitif mahasiswa semakin meningkat, yang membentuk kemampuan baru yang semula tidak terlihat menjadi terlihat (Semiawan, 2017).

Selanjutnya, Mihalyi (1975) mengungkapkan tentang teori flow sebagai sensasi holistik yang dimiliki individu ketika mereka bertindak dengan keterlibatan total. Intinya, flow terjadi manakala individu (mahasiswa) memersepsikan bahwa aktivitas akademik yang mereka rasakan sebagai objek di mana terdapat keseimbangan antara beban akademik dan kemampuan mereka (Beard, 2014).

Dapat dipahami bahwa apabila challenge (beban akademik) yang mahasiswa terima terlalu tinggi dengan diikuti oleh rendahnya skill (keterampilan akademik; self-efficacy: Kepercayaan diri terhadap kemampuan yang dimilikinya terhadap tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas akademik), maka hal itu mengakibatkan mahasiswa merasakan academic anxiety (kecemasan dalam hal akademik). Sebaliknya, jika mahasiswa memersepsikan bahwa challenge yang mereka terima terlalu rendah, sementara skill yang mereka miliki tinggi, maka mereka akan merasakan boredom (bosan). Demikian, mahasiswa yang dihadapkan dengan keseimbangan antara challenge dan skill merasakan flow pada aktivitas akademik mereka. Mereka mampu menikmati aktivitas akademik dan tidak perhatian mereka tidak mudah dialihkan oleh hal-hal lain selain aktivitas akademik mereka (Mihalyi, 1997). Lebih lanjut, ketika aktivitas akademik mereka berakhir (seperti: setelah menyelesaikan tugas), mereka akan merasakan kepuasan (satisfaction) dan sejahtera (well-being) (Mihalyi, 1997). Meskipun selama menjalani proses akademik, mereka tidak selalu merasakan kebahagiaan, namun dengan flow, semakin mereka merasakan flow pada setiap aktivitas akademik, semakin mereka merasakan kebahagiaan dengan hal-hal yang berkaitan dengan iklim akademik (Mihalyi, 1997). 

Mengacu pada teori flow Mihalyi (1975), agar terdapat kesinambungan antara challenge dan skill yang dimiliki oleh mahasiswa, mereka sangat ditekankan agar memilih bidang peminatan (fakultas dan peminatan bidang) yang sesuai dengan minat mereka. Terdapat sebuah idiom yang mengatakan ‘the right man, on the right place’ (Georgakopoulou, 2003), yang dalam bidang akademik, individu sangat ditekankan untuk mengambil spesifikasi program peminatan berdasarkan pada minat mereka.

Linnenbrink dan Pintrinch (2002) menuliskan bahwa minat yang kuat dari individu terhadap peminatan yang telah dipilih akan berimplikasi terhadap motivasi belajar dan berprestasi mereka. Mahasiswa yang mengenyam proses akademik sesuai dengan minat mereka akan meningkatkan self-efficacy selama menjalankan proses akademik (Linnenbrink & Pintrinch, 2002). Selain itu, minat pada proses akademik yang meningkatkan intrinsic motivation (motivasi intrinsik) yang merupakan faktor yang berkontribusi terhadap kesuksesan akademik mahasiswa. Setiap individu tidaklah sama (individual differences). Hal itu juga terdapat pada self-efficacy masing-masing mahasiswa. Minat satu mahasiswa dengan yang lainnya tidaklah sama. Sebut saja, mahasiswa A terlihat mempunyai self-efficacy yang tinggi dalam memecahkan persoalan statistik, tetapi self-efficacy terlihat rendah pada bidang filsafat. Hal itu disebabkan oleh pengalaman sebelumnya apakah mereka mengalami kesuksesan atau pun kegagalan pada masing-masing bidang. Demikian, self-efficacy inilah yang akan mengantarkan mahasiswa pada kesuksesan akademik mereka. Sementara itu, Pintrinch dan Schunk (2002) mendefinisikan intrinsic motivation sebagai motivasi untuk terlibat dalam aktivitas akademik atas keinginan sendiri. Penelitian Trevino dan DeFreitas (2014) mengindikasikan bahwa intrinsic motivation secara signifikan mampu meningkatkan prestasi akademik individu. Demikian, mahasiswa dengan indikasi minat yang tinggi terhadap spesifikasi peminatan studi yang telah dipilih akan mempunyai intrinsic motivation yang menyebabkan tingginya tingkat persistensi (keuletan untuk menyelesaikan tugas dan aktivitas akademik) mahasiswa (Trevino & DeFreitas, 2014). Singkatnya, keberhasilan mahasiswa dalam bidang akademik disebabkan oleh persistensi mereka.

 

Penulis : Kusumasari Kartika Hima Darmayanti (Staf Pendidik FPsi UTS)

 

SUKA-SUKA AKU LAH: MENINGKATKAN PERFORMA AKADEMIK BERDASARKAN PADA MINAT YANG TELAH DIPILIH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *