Sumber : https://pelatihanpengembangansdm.co.id/inilah-cara-tingkatkan-keterampilan-berkomunikasi-di-tempat-kerja/

Tempat kerja dan pegawai adalah dua unsur yang tidak bisa dipisahkan. Tempat kerja dan pegawai berinteraksi demi kelancaran administrasi. Dalam berinteraksi dengan kawan sejawat tentu kita tidak terlepas dari komunikasi. Tim kerja yang baik perlu memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Komunikai yang baik ditunjang oleh kemampuan interpersonal yang baik. Saling menghargai adalah prinsip dasar yang perlu dijunjung tinggi. Tentu hal ini dibutuhkan oleh rekan sejawat, tanpa memandang level pendidikan dan latar belakang pendidikan. Patokannya adalah dalam satu tim kerja kita semua memiliki tujuan yang sama, yakni mewujudkan program kerja.

Dalam sebuah artikel online dilansir dari detik.com bertajuk “komunikasi yang kurang baik dapat tingkatkan masalah kesehatan” disebutkan bahwa kemampuan komunikasi yang kurang baik dapat meningkatkan resiko kesehatan mental. Mereka yang kurang pandai mengekspresikan diri dengan baik di dalam pergaulan rekan sejawat bisa mendapatkan banyak tantangan. Sebagaimana diketahui secara umum kemampuan komunikasi yang baik membantu kita mendapatkan pekerjaan dan memperluas lingkup pergaulan sosial.

Dalam lingkungan kerja, yang dihadapi tentunya manusia yang terdiri dari komponen rasa dan karsa. Di dalamnya ada proses menerima masukan dan diskusi. Lalu kemudian dieksekusi secara bersamaan, namun di dalam tim yang terdiri dari komponen ahli dan komponen struktural. Tentu komponen struktural lebih banyak sebagai pelaksana. Adapun komponen ahli menerima pengaturan penuh dari komponen struktural. Jika ada beberapa hal konseptual yang perlu ditambahkan dan direvisi maka komponen fungsional memberikan saran dan masukan serta solusi yang dapat segera dikerjakan.

Secara umum diketahui bahwa pembicara yang baik adalah pendengar yang baik. Jika tidak, dipastikan pemimpin dan individu-individu dari tim tersebut akan merasa terbebani bergabung dalam tim tersebut. Hal ini sangat diperlukan oleh pemimpin dalam sebuah unit. Ketika pemimpin tidak memiliki kemampuan untuk mendengarkan dan mengapresiasi aspirasi anggota tim. Mungkin akan terjadi banyak clash salam sebuah tim.

Di era digital yang terus berkembang. Komunikasi antara tim dilakukan tanpa batas, menembus waktu-waktu istirahat yang tidak seharusnya dilanggar oleh ketua pimpinan sekaligus. Bahasa text dan bahasa audio melalui gawai yang kurang mewakili bahasa dan kemampuan komunikasi penutur dilihat kurang memadai. Apalagi jika ketua tim menganggap dirinya lah satu-satunya orang yang memberikan sumbangsih dalam sebuah tim, tanpa memperhatikan jerih payah orang-orang terdahulu sebelumnya dan tim-tim solid dibawahnya. Layaknya sebuah bom waktu, jika hal ini telah terjadi maka tunggu saja kehancuran tim tersebut. Dari awal, saling menghargai bukan hanya sekedar ungkapan manis dibibir yang abai dilaksanakan dalam berinteraksi. Banyak etika-etika dan maksim-maksim komunikasi yang perlu dipertimbangkan dalam interaksi komunikasi di tempat kerja.

Maksim-maksim komunikasi yakni maksim kualitas menyangkut realibilitas antara tuturan dan feedback, maksim kuantitas menyangkut keterefisiensi antara tuturan dan feedback, maksim manner menyangkut etika tuturan yang dapat didengarkan oleh pendengar, apakah berterima atau tidak. Tentu maksim-maksim ini sangat penting diterapkan di dalam komunikasi di dunia kerja. Bertuturkatalah yang benar dan baik di dengar secara etika. Dikarenakan lingkungan kerja adalah lingkungan yang terdiri dari komponen orang-orang yang kompleks. Perasaan merasa diri wah dan oke perlu dihilangkan dalam komunikasi bersama rekan sejawat. Mengedepankan kepentingan tim lebih didahulukan daripada kepentingan bos. Dari pada menjadi bos, yang paling efektif adalah menjadi pemimpin.

 

Penulis : Pratiwi Sakti (Staf Pendidik FPsi UTS)

KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN KESEHATAN MENTAL DI TEMPAT KERJA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *